Sabtu, 29 Januari 2011
olahraga
Usia Giovanni van Bronckhorst terbilang sudah tidak muda lagi sebagai pemain. Kapten Timnas Belanda di Piala Dunia 2010 ini ternyata punya cita-cita menjadi pelatih tim sepakbola selepas gantung sepatu sebagai pemain.
Pendidikan
Batik
Pada tahun 2008 ini, trend batik kembali berkembang pesat. Trend ini sekaligus mengangkat keindahan batik ke masyarakat Indonesia maupun mancanegara. Dari batik kuno hingga batik trendy merajalela di ibukota. Sebutlah Jakarta. Disini banyak sekali ditemukan anak muda hingga orangtua yang bepergian dengan menggunakan batik. Batik yang identik dengan pakaian formal, sekarang bisa digunakan dalam berbagai acara.
Seperti di mall-mall, di café, hingga pejalan kaki, banyak sekali yang menggunakan batik. Desain baju batik pun semakin berkembang, tidak hanya berputar dengan model yang itu-itu saja. Sekarang model batik sangat bervariasi, mulai dari batik resmi untuk acara formal, hingga batik semi formal dan batik casual. Bahan yang digunakan pun bermacam-macam. Ada pula batik tulis, sampai dengan batik sablon. Untuk batik sablon, harga pakaian ini biasanya lebih murah ketimbang batik tulis.
Warna pada batik pun bermacam-macam, tidak terpaku dengan warna coklat saja. Ada batik yang berwarna pink, biru, dan masih banyak lagi. Corak batikpun semakin bervariasi.
Bisnis batik juga melesat dengan cepat. Bisa dibilang ini adalah trend bisnis masa kini. Banyak sekali yang menjual batik di Jakarta. Bahkan di pusat-pusat bisnis hingga butik-butik ternama, batik sudah bak kacang goreng. Bisa ditemukan penjual-penjual batik dimana saja.
Untuk mendapatkan batik yang bagus, tentu kita harus jeli dalam memilih. Jangan sampai memilih bahan yang kurang bagus atau batik yang cepat luntur. Harga batikpun juga bervariasi. Batik yang mahal belum tentu bagus dan batik yang murah juga belum tentu tidak bagus. Tinggal bagaimana kita jeli dalam memilih batik.
Senin, 17 Januari 2011
Penyakit Jantung Dan Stroke Serta Pencegahannya
Penyakit jantung dan stroke merupakan sosok penyakit yang sangat menakutkan. Bahkan sekarang ini di Indonesia penyakit jantung menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian.Penyakit jantung dan stroke sering dianggap sebagai penyakit monopoli orang tua. Dulu memang penyakit-penyakit tersebut diderita oleh orang tua terutama yang berusia 60 tahun ke atas, karena usia juga merupakan salah satu faktor risiko terkena penyakit jantung dan stroke. Namun sekarang ini ada kecenderungan juga diderita oleh pasien di bawah usia 40 tahun. Hal ini bisa terjadi karena adanya perubahan gaya hidup, terutama pada orang muda perkotaan modern.
Ketika era globalisasi menyebabkan informasi semakin mudah diperoleh, negara berkembang dapat segera meniru kebiasaan negara barat yang dianggap cermin pola hidup modern. Sejumlah perilaku seperti mengkonsumsi makanan siap saji (fast food) yang mengandung kadar lemak jenuh tinggi, kebiasaan merokok, minuman beralkohol, kerja berlebihan, kurang berolah raga, dan stress, telah menjadi gaya hidup manusia terutama di perkotaan. Padahal kesemua perilaku tersebut dapat merupakan faktor-faktor penyebab penyakit jantung dan stroke.
Faktor-Faktor Risiko Penyakit Jantung & Stroke
Ada berbagai macam penyakit jantung, namun penyakit jantung yang umumnya ditakuti adalah jantung koroner karena menyerang pada usia produktif dan dapat menyebabkan serangan jantung hingga kematian mendadak. Penyebab penyakit jantung koroner adalah adanya penyempitan dan penyumbatan pembuluh arteri koroner.
Penyempitan dan penyumbatan pembuluh arteri koroner disebabkan oleh penumpukan dari zat-zat lemak (kolesterol, trigliserida) yang makin lama makin banyak dan menumpuk di bawah lapisan terdalam (endotelium) dari dinding pembuluh nadi. Hal ini mengurangi atau menghentikan aliran darah ke otot jantung sehingga mengganggu kerja jantung sebagai pemompa darah. Efek dominan dari jantung koroner adalah kehilangan oksigen dan nutrient ke jantung karena aliran darah ke jantung berkurang. Pembentukan plak lemak dalam arteri akan mempengaruhi pembentukan bekuan darah yang akan mendorong terjadinya serangan jantung.
Ada empat faktor utama penyebab penyakit jantung, yaitu :
1. merokok terlalu berlebihan selama bertahun-tahun
2. kadar lemak darah (kolesterol) yang tinggi
3. tekanan darah tinggi
4. penyakit kencing manis
Seperti halnya penyakit jantung, stroke juga erat kaitannya dengan gangguan pembuluh darah. Stroke terjadi karena ada gangguan aliran darah ke bagian otak. Bila ada daerah otak yang kekurangan suplai darah secara tiba-tiba dan penderitanya mengalami gangguan persarafan sesuai daerah otak yang terkena. Bentuknya dapat berupa lumpuh sebelah (hemiplegia), berkurangnya kekuatan sebelah anggota tubuh (hemiparesis), gangguan bicara, gangguan rasa (sensasi) di kulit sebelah wajah, lengan atau tungkai.
Faktor-faktor risiko untuk terjadinya stroke mempunyai kesamaan dengan faktor risiko penyakit jantung, yaitu :
• Merokok
• Hipertensi
• Kadar lemak darah tinggi
• Diabetes mellitus
• Gangguan pembuluh darah/jantung
• Tingginya jumlah sel darah merah
• Kegemukan (obesitas)
• Kurang aktifitas fisik/olah raga
• Minuman alcohol
• Penyalahgunaan obat (Narkoba)
Mencegah Penyakit Jantung dan Stroke dengan Pola Hidup Sehat
Upaya pencegahan untuk menghindari penyakit jantung dan stroke dimulai dengan memperbaiki gaya hidup dan mengendalikan faktor risiko sehingga mengurangi peluang terkena penyakit tersebut.
Untuk pencegahan penyakit jantung & stroke hindari obesitas/kegemukan dan kolesterol tinggi. Mulailah dengan mengkonsumsi lebih banyak sayuran, buah-buahan, padi-padian, makanan berserat lainnya dan ikan. Kurangi daging, makanan kecil (cemilan), dan makanan yang berkalori tinggi dan banyak mengandung lemak jenuh lainnya. Makanan yang banyak mengandung kolesterol tertimbun dalam dinding pembuluh darah dan menyebabkan aterosklerosis yang menjadi pemicu penyakit jantung dan stroke.
Berhenti merokok merupakan target yang harus dicapai, juga hindari asap rokok dari lingkungan. Merokok menyebabkan elastisitas pembuluh darah berkurang, sehingga meningkatkan pengerasan pembuluh darah arteri, dan meningkatkan faktor pembekuan darah yang memicu penyakit jantung dan stroke. Perokok mempunyai peluang terkena stroke dan jantung koroner sekitar dua kali lipat lebih tinggi dibanding dengan bukan perokok.
Kurangi minum alkohol. Makin banyak konsumsi alkohol maka kemungkinan stroke terutama jenis hemoragik makin tinggi. Alkohol dapat menaikan tekanan darah, memperlemah jantung, mengentalkan darah dan menyebabkan kejang arteri.
Lakukan Olahraga/aktivitas fisik. Olahraga dapat membantu mengurangi bobot badan, mengendalikan kadar kolesterol, dan menurunkan tekanan darah yang merupakan faktor risiko lain terkena jantung dan stroke
Kendalikan tekanan darah tinggi dan kadar gula darah. Hipertensi merupakan faktor utama terkena stroke dan juga penyakit jantung koroner. Diabetes juga meningkatkan risiko stroke 1,5-4 kali lipat, terutama apabila gula darahnya tidak terkendali.
Hindari penggunaan obat-obat terlarang seperti heroin, kokain, amfetamin, karena obat-obatan narkoba tersebut dapat meningkatkan risiko stroke 7 kali lipat dibanding dengan yang bukan pengguna narkoba.
Mencegah Penyakit Jantung dan Stroke dengan Tumbuhan Obat
Beberapa jenis tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk mencegah penyakit jantung dan stroke mempunyai efek melancarkan sirkulasi darah dan sebagai antikoagulan yaitu mencegah penggumpalan darah, karena penyakit jantung dan stroke penyebab utamanya adalah gangguan pada pembuluh darah.
Beberapa jenis tumbuhan Obat dan bahan alami yang dapat digunakan untuk mencegah dan mengatasi Penyakit Jantung dan Stroke antara lain :
1. DAUN DEWA (Gynura segetum)
Efek farmakologis : sebagai anticoagulant, mencairkan bekuan darah, melancarkan sirkulasi darah dan membersihkan racun.
Bagian yang dipakai adalah daun dan umbinya. Dosis yang dianjurkan yaitu 15-30 gram daun segar dan 6-10 gram umbinya.
2. Mengkudu (Morinda citrifolia)
Khasiat ; menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan kolesterol dan kadar gula darah tinggi. Khasiat tersebut dapat mencegah risiko terkena penyakit jantung dan stroke. Dosis : 2-3 buah yang matang
3. BAWANG PUTIH (Allium sativum)
Efek : melancarkan sirkulasi darah, antikoagulan (mencegah pembekuan darah), menurunkan kolesterol darah, menurunkan kadar gula darah, menurunkan tekanan darah tinggi dan menambah sistem kekebalan.
4. BAWANG BOMBAY (Allium cepa)
Berkhasiat mencegah pengumpalan darah, menurunkan kadar lemak darah, menurunkan kadar gula darah dan menurunkan tekanan darah.
5. Jamur Kuping hitam (Auricularia auricula)
Khasiat/efek : Mencegah stroke dan pendarahan otak, baik untuk jantung dan pembuluh darah.
6. Rumput laut (Laminaria japonica)
Khasiat : mencegah penyempitan pembuluh darah, menurunkan kolesterol dan tekanan darah tinggi.
7. Terung Ungu (Solanum melongena L.)
Khasiat : mencegah aterosklerosis (penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah), mencegah meningkatnya kolesterol darah, menurunkan ketegangan saraf.
8. Jantung pisang
Khasiat : Mencegah stroke dan pendarahan otak, baik untuk jantung dan pembuluh darah.
9. Bunga Mawar (Rosa chinensis)
Khasiat/efek : melancarkan sirkulasi darah, menetralkan racun. Dosis pemakaian: 3-10 g bunga kering
10. Siantan (Ixora stricta Roxb.)
Khasiat: mengecilkan bekuan darah, menurunkan tekanan darah. Dosis pemakaian : 10-15 g bunga
Obat Herbal yang Menyehatkan

BERUNTUNG Indonesia kaya akan spesies tanaman obat. Pasalnya, tanaman obat tersebut terbukti manjur mengobati berbagai macam penyakit. Namun, obat herbal belum dikelola secara maksimal.
Indonesia memiliki sekitar 300.000 spesies tanaman yang tersebar di seluruh dunia, di mana kurang lebih 85.000 spesies di antaranya telah tercatat digunakan sebagai pengobatan secara umum. Pada saat ini baru sekitar 2 persen dari seluruh spesies tanaman tersebut yang telah diteliti kandungan dan efikasinya.
Pemanfaatan sumber daya hayati terbesar adalah untuk obat-obatan. Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia/WHO (2005) tercatat bahwa 75–80 persen penduduk dunia pernah memanfaatkan herbal sebagai pengobatan. Sementara Indonesia sendiri, merupakan megacenter keanekaragaman Hayati yang memiliki kurang lebih 80.000 spesies tanaman. Dari sekitar 30.000 spesies tanaman berbunga terdapat sekitar 9.600 spesies merupakan tanaman obat.
Namun, potensi keanekaragaman sumber budaya hayati ini belum dimanfaatkan secara optimal karena berbagai kendala, antara lain belum atau masih sangat sedikit diketahuinya karakter dan biofungsi serta cara pemanfaatan dan eksplorasi senyawa yang terkandung. Saat ini baru terdapat sekitar 250 spesies yang telah digunakan secara komersial sebagai obat herbal.
”Penggunaan obat herbal kini semakin diakui dunia kedokteran, termasuk perannya dalam penyembuhan penyakit kanker,” kata Kepala Unit Complementary Alternative Medicine (CAM) RS Kanker Dharmais, dr Aldrin Neilwan P MD MARS M Biomed, M Kes SpAK, dalam penyuluhan kanker di RS Kanker Dharmais Jakarta beberapa waktu lalu.
Saat ini, kata Aldrin, pasien banyak yang enggan mengonsumsi obat herbal bersamaan dengan obat medis. Sebenarnya, terang dia, hal itu tidak menjadi masalah. Tetapi perlu ditekankan obat herbal hanya digunakan sebagai pelengkap (komplementer), bukan sebagai pengganti obat-obatan yang sudah ada atau dalam istilah kedokteran disebut golden standard.
”Pasien tetap butuh obat medis. Sayangnya banyak pasien yang salah persepsi terhadap penggunaan obat tradisional. Karena itu, yang harus diperhatikan adalah pemakaiannya,” tuturnya.
Dia mengungkapkan, penggunaan obat tradisional bisa digunakan pada tahap prepatogenesis (pencegahan) dan paliatif (tindakan untuk meringankan beban penderita kanker terutama yang tidak bisa disembuhkan). Obatobat herbal menurut penelitian yang ada, hanya bisa menghambat perkembangan sel kanker, bukan mematikan sel-sel tersebut. Maka pengobatan medis seperti kemoterapi dan radiasi tetap harus dilakukan jika si pasien ingin sembuh dan sel kankernya mati.
Aldrin menyarankan untuk pengonsumsian obat-obatan herbal sebaiknya diberi jeda dengan obat medis agar efek obat tidak saling meniadakan misalnya diberi waktu penggunaan selama satu jam. ”Tidak ada gunanya jika meminum obat secara bersamaan apabila khasiatnya saling meniadakan. Itu sama halnya memasukkan sampah ke dalam tubuh,” imbuhnya.
Meski alami, obat herbal juga memiliki efek samping. Namun, efeknya tergantung pada obat itu masing-masing. ”Setiap sesuatu yang masuk ke dalam tubuh pasti memiliki efek samping. Tetapi, setiap orang dan jenis obat berbedabeda efek sampingnya,” kata Aldrin.
Menurut Aldrin, saat ini memang telah terjadi peningkatan terhadap kecenderungan menerapkan konsep back to nature dalam pengobatan, yang berarti mengonsumsi obat alami dengan mendayagunakan sumber daya alam secara optimal, tetapi harus tetap mengacu pada pendekatan rasional.
”Meski demikian, hingga pada saat ini pengobatan dengan memanfaatkan obat alami belum menjadi bagian dalam sistem kesehatan konvensional. Obatobatan herbal masih sebatas berperan sebagai upaya preventif, rehabilitatif dan paliatif,” tuturnya.
Jika obat bahan alam untuk dapat digunakan dalam sistem pelayanan kesehatan konvensional, lanjut dia, harus diuji baik keamanan maupun efektivitasnya dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan yang sesuai.
Proses pembuatan obat herbal yang layak untuk dikonsumsi juga harus memenuhi standardisasi yang sama dengan obat medis buatan dunia Barat. ”Prosesnya harus diawasi, mulai dari hulu sampai hilir. Standardisasi harus dimulai sejak hulu.
Contohnya jenis tanaman temulawak yang ditanam di Jawa Tengah dan di Jakarta,pasti berbeda kualitasnya,” jelas Aldrin yang juga sekretaris umum Indonesian Medical Association in Herbal Medicine (IMAHM).
Kata Aldrin, agar kualitasnya tetap terjaga, kita tidak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah melalui Kementerian Kesehatan, mengingat hulu dari obat herbal ada di pertanian. Karenanya, Kementerian Pertanian juga harus ikut mengawasi, mulai dari pembibitan, pemilihan jenis tanah dan kapan masa panen yang tepat.
Memang, hak setiap orang untuk membuat obat herbal. Namun, sebaiknya industri rumahan yang memproduksi jamu dibina oleh pemerintah, seperti diajari bagaimana menghasilkan obat yang baik. ”Cara pembuatan obat yang baik (CPOB) yang ditetapkan Kementerian Kesehatan adalah persyaratan mutlak yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh semua pabrik farmasi,” ucap Aldrin.
Ruang lingkup CPOB menyangkut seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu. Tujuannya untuk menjamin bahwa produk obat dibuat dan senantiasa memenuhi persyaratan mutu sesuai dengan tujuan penggunaannya. Sumber daya manusia di pabrik pengolahan obat herbal juga harus menguasai ilmu medis. Selain itu, tambah Aldrin, bangunan dan fasilitas harus memiliki sistem saringan yang baik. Proses pembungkusan, terang dia, juga harus diperhatikan dengan baik. ”Jangan disimpan di tempat terbuka. Proses pemindahan bahan herbal juga tidak boleh menggunakan tangan polos, namun harus dengan alat yang bersih,” kata Aldrin.
Tak hanya sampai di situ, produsen juga harus mempunyai bagian pengawasan mutu atau quality control. Aldrin menyebut China sebagai salah satu negara yang begitu maju pengembangan obat-obatan herbalnya. Di negeri tersebut sudah ada standardisasi yang baik. Saat mengunjungi pabrik Tien Chang Pharmaceutical beberapa waktu lalu, Aldrin melihat langsung setiap tanaman memiliki fingerprinting.




