Senin, 17 Januari 2011

Obat Herbal yang Menyehatkan

Obat_Herbal

BERUNTUNG Indonesia kaya akan spesies tanaman obat. Pasalnya, tanaman obat tersebut terbukti manjur mengobati berbagai macam penyakit. Namun, obat herbal belum dikelola secara maksimal.

Indonesia memiliki sekitar 300.000 spesies tanaman yang tersebar di seluruh dunia, di mana kurang lebih 85.000 spesies di antaranya telah tercatat digunakan sebagai pengobatan secara umum. Pada saat ini baru sekitar 2 persen dari seluruh spesies tanaman tersebut yang telah diteliti kandungan dan efikasinya.

Pemanfaatan sumber daya hayati terbesar adalah untuk obat-obatan. Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia/WHO (2005) tercatat bahwa 75–80 persen penduduk dunia pernah memanfaatkan herbal sebagai pengobatan. Sementara Indonesia sendiri, merupakan megacenter keanekaragaman Hayati yang memiliki kurang lebih 80.000 spesies tanaman. Dari sekitar 30.000 spesies tanaman berbunga terdapat sekitar 9.600 spesies merupakan tanaman obat.

Namun, potensi keanekaragaman sumber budaya hayati ini belum dimanfaatkan secara optimal karena berbagai kendala, antara lain belum atau masih sangat sedikit diketahuinya karakter dan biofungsi serta cara pemanfaatan dan eksplorasi senyawa yang terkandung. Saat ini baru terdapat sekitar 250 spesies yang telah digunakan secara komersial sebagai obat herbal.

”Penggunaan obat herbal kini semakin diakui dunia kedokteran, termasuk perannya dalam penyembuhan penyakit kanker,” kata Kepala Unit Complementary Alternative Medicine (CAM) RS Kanker Dharmais, dr Aldrin Neilwan P MD MARS M Biomed, M Kes SpAK, dalam penyuluhan kanker di RS Kanker Dharmais Jakarta beberapa waktu lalu.
Saat ini, kata Aldrin, pasien banyak yang enggan mengonsumsi obat herbal bersamaan dengan obat medis. Sebenarnya, terang dia, hal itu tidak menjadi masalah. Tetapi perlu ditekankan obat herbal hanya digunakan sebagai pelengkap (komplementer), bukan sebagai pengganti obat-obatan yang sudah ada atau dalam istilah kedokteran disebut golden standard.

”Pasien tetap butuh obat medis. Sayangnya banyak pasien yang salah persepsi terhadap penggunaan obat tradisional. Karena itu, yang harus diperhatikan adalah pemakaiannya,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, penggunaan obat tradisional bisa digunakan pada tahap prepatogenesis (pencegahan) dan paliatif (tindakan untuk meringankan beban penderita kanker terutama yang tidak bisa disembuhkan). Obatobat herbal menurut penelitian yang ada, hanya bisa menghambat perkembangan sel kanker, bukan mematikan sel-sel tersebut. Maka pengobatan medis seperti kemoterapi dan radiasi tetap harus dilakukan jika si pasien ingin sembuh dan sel kankernya mati.

Aldrin menyarankan untuk pengonsumsian obat-obatan herbal sebaiknya diberi jeda dengan obat medis agar efek obat tidak saling meniadakan misalnya diberi waktu penggunaan selama satu jam. ”Tidak ada gunanya jika meminum obat secara bersamaan apabila khasiatnya saling meniadakan. Itu sama halnya memasukkan sampah ke dalam tubuh,” imbuhnya.

Meski alami, obat herbal juga memiliki efek samping. Namun, efeknya tergantung pada obat itu masing-masing. ”Setiap sesuatu yang masuk ke dalam tubuh pasti memiliki efek samping. Tetapi, setiap orang dan jenis obat berbedabeda efek sampingnya,” kata Aldrin.

Menurut Aldrin, saat ini memang telah terjadi peningkatan terhadap kecenderungan menerapkan konsep back to nature dalam pengobatan, yang berarti mengonsumsi obat alami dengan mendayagunakan sumber daya alam secara optimal, tetapi harus tetap mengacu pada pendekatan rasional.

”Meski demikian, hingga pada saat ini pengobatan dengan memanfaatkan obat alami belum menjadi bagian dalam sistem kesehatan konvensional. Obatobatan herbal masih sebatas berperan sebagai upaya preventif, rehabilitatif dan paliatif,” tuturnya.

Jika obat bahan alam untuk dapat digunakan dalam sistem pelayanan kesehatan konvensional, lanjut dia, harus diuji baik keamanan maupun efektivitasnya dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan yang sesuai.

Proses pembuatan obat herbal yang layak untuk dikonsumsi juga harus memenuhi standardisasi yang sama dengan obat medis buatan dunia Barat. ”Prosesnya harus diawasi, mulai dari hulu sampai hilir. Standardisasi harus dimulai sejak hulu.

Contohnya jenis tanaman temulawak yang ditanam di Jawa Tengah dan di Jakarta,pasti berbeda kualitasnya,” jelas Aldrin yang juga sekretaris umum Indonesian Medical Association in Herbal Medicine (IMAHM).

Kata Aldrin, agar kualitasnya tetap terjaga, kita tidak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah melalui Kementerian Kesehatan, mengingat hulu dari obat herbal ada di pertanian. Karenanya, Kementerian Pertanian juga harus ikut mengawasi, mulai dari pembibitan, pemilihan jenis tanah dan kapan masa panen yang tepat.

Memang, hak setiap orang untuk membuat obat herbal. Namun, sebaiknya industri rumahan yang memproduksi jamu dibina oleh pemerintah, seperti diajari bagaimana menghasilkan obat yang baik. ”Cara pembuatan obat yang baik (CPOB) yang ditetapkan Kementerian Kesehatan adalah persyaratan mutlak yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh semua pabrik farmasi,” ucap Aldrin.

Ruang lingkup CPOB menyangkut seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu. Tujuannya untuk menjamin bahwa produk obat dibuat dan senantiasa memenuhi persyaratan mutu sesuai dengan tujuan penggunaannya. Sumber daya manusia di pabrik pengolahan obat herbal juga harus menguasai ilmu medis. Selain itu, tambah Aldrin, bangunan dan fasilitas harus memiliki sistem saringan yang baik. Proses pembungkusan, terang dia, juga harus diperhatikan dengan baik. ”Jangan disimpan di tempat terbuka. Proses pemindahan bahan herbal juga tidak boleh menggunakan tangan polos, namun harus dengan alat yang bersih,” kata Aldrin.

Tak hanya sampai di situ, produsen juga harus mempunyai bagian pengawasan mutu atau quality control. Aldrin menyebut China sebagai salah satu negara yang begitu maju pengembangan obat-obatan herbalnya. Di negeri tersebut sudah ada standardisasi yang baik. Saat mengunjungi pabrik Tien Chang Pharmaceutical beberapa waktu lalu, Aldrin melihat langsung setiap tanaman memiliki fingerprinting.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar